Masalah Arema yang harus dibenahi Marcos Santos menjadi pekerjaan rumah utama menjelang Super League 2026-2027. Pelatih asal Brasil tersebut resmi melanjutkan tugasnya sebagai arsitek Skuad Singo Edan untuk musim depan.
Sebelumnya, dewan direksi Arema memutuskan mempertahankan Marcos di kursi pelatih kepala. Padahal, Marcos belum mampu membawa Arema mencapai target finis di lima besar pada musim lalu.
Namun demikian, Arema tetap menutup Super League 2025-2026 di peringkat kesembilan klasemen akhir. Bahkan, posisi tersebut menjadi pencapaian terbaik klub dalam tiga musim terakhir di era General Manager Yusrinal Fitriandi.
“Kami bermain sangat baik musim lalu, bahkan melawan tim-tim seperti Persija Jakarta, yang merupakan tim kuat. Kami tampil sesuai dengan karakter permainan kami. Namun kami tidak mampu menjaga konsistensi hasil,” kata Marcos.
Temukan Penyebab Masalah Arema yang Bikin Inkonsisten
Menurut Marcos, masalah utama Arema musim lalu bukan terletak pada kualitas permainan. Sebaliknya, Marcos menilai tim kesulitan menjaga konsistensi akibat gangguan yang terus berulang.
Melalui evaluasinya, Marcos menyimpulkan bahwa badai cedera dan akumulasi kartu menjadi penyebab utama. Karena itu, tim tidak bisa mempertahankan komposisi pemain terbaik dalam banyak pertandingan.
Fakta tersebut terlihat dari catatan kemenangan beruntun Arema sepanjang musim lalu. Tim kebanggaan Aremania ini hanya mampu mencatat tiga kemenangan beruntun dalam dua periode berbeda.
“Saat kami mampu melakukannya, kami meraih tiga kemenangan. Setelah itu kami mengalami masalah kartu merah, kartu kuning, dan cedera,” imbuh pelatih berusia 46 tahun ini.
Selain itu, pergantian pemain yang terlalu sering membuat stabilitas tim terganggu. Akibatnya, Arema kesulitan mempertahankan momentum positif yang sudah dibangun.
“Kami gak bisa mempertahankan komposisi tim yang sama. Hal itu sangat memengaruhi perjalanan kami di kompetisi,” pungkasnya.
